Jumat, 29 Januari 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KANKER PAYUDARA ( ASKEP Ca MAMAE)

A. KONSEP DASAR Ca. MAMME (KANKER PAYUDARA)

1. Pengertian 

Kanker payudara adalah kanker yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (Luwia, 2003). Menurut Cahyani cit Pramadhiani (2000) kanker payudara adalah benjolan pada payudara yang tumbuh secara abnormal terus menerus dan tidak terkendali.
Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun (Elizaberth J. Corwin, 2000 : G67)
Kanker payudara adalah jenis kanker kedua penyebab kematian karena kanker pada wanita, dengan perkiraan 46.000 meninggal pada tahun 1994. (Danielle Gale, RN. MS, 1999 : 127)
Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia biasanya ditemukan umur 40-49 tahun dan letak terbanyak dikuadran lateral atas (Mansjoer, 2000 : 283)

2. Tanda dan Gejala 

a. Benjolan atau penebalan pada payudara. Ditemukan pada wanita itu sendiri akan tetapi Kebanyakan ditemukan kebetulan tidak dengan pemerikasaan SADARI
b. Pada tahap lanjut, kulit cekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu nyeri
- Nyeri tekan atau rabas khususnya berdarah dari putting
- Kulit peau d’orange
- Kulit tebal dengan pori-pori menonjol seperti kulit jeruk
- Ulserasi pada payudara
c. Bila sudah metastasis
- Nyeri pada bahu, pinggang, bahu bagian bawah atau pelvis
- Batuk menetap
- Anoreksi atau BB
- Gang pencernaan
- Pusing, penglihatan kabur dan kepala
d. Pembesaran kelenjar getah bening
(Gale .1991 : 128)

3. Etiologi

Penyebab kanker payudara secara pasti belum diketahui, tetapi terdapat serangan faktor:
1. Genetik: Bukti yang terus bermunculan menunjukan bahwa perubahan genetik berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan perubahan genetik masih belum diketahui perubahan genetik ini termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal, dan pengaruh protein baik yang menekan atau meningkatkan perkembangan payudara.
2. Hormonal: Hormon steroid yang dihasilkan oleh ovarium mempunyai peran penting dalam kanker payudara. Dua hormon ovarium utama yaitu estradiol dan progesteron mengalami perubahan dalam lingkungan seluler, yang dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi kanker payudara.
3. Lingkungan: Kemunkinan kejadian lingkungan dapat menunjang terjadinya kanker payudara. Yaitu keadaan lingkungan dengan paparan sinar radioaktif, sinar X dan pencemaran bahan-bahan kimia
4. Berat Badan: Berat badan bisa mempengaruhi terjadinya kanker payudara karena simpanan lemak adalah sumber produksi hormon estrogen.


4. Faktor Resiko

1. Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Resiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1% setiap tahun.
2. Anak perempuan atau saudara perempuan (hubunagn keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara. Resiko meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4-6 kali jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara langsung.
3. Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun.
4. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempuyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara dibanding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun.
5. Menopause pada usia lanjut. Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah menjalani ooforektomi bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko sepertiganya.
6. Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel proliferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara. Wanita dengan hiperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini.
7. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat.
8. Obesitas, risiko rendah diantara wanita pascamenopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian lebih tinggi, yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat.
9. Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun, resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi.
10. Terapi penggantian hormon. Terdapat laporan yang membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi penggantian hormon. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen suplemen dan menggunakannya untuk jangka panjang (Lebih dari 10-15 tahun) dapat mengalami peningkatan risiko. Sementara penambahan progesteron terhadap penggantian estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium, hal ini tidak menurunkan risiko kanker payudara.
11. Masukan alkohol. Sedikit peningkatan risiko ditemukan pada wanita yang menkonsumsi alkohol bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alkohol tiga kali sehari. Di negara dimana minuman anggur dikonsumsi secara teratur (misal: Prancis dan Itali), Angkanya sedikit lebih tinggi. Beberapa temuan reseach menunjukkan bahwa wanita muda yang minum alkohol lebih rentan untuk mengalami kankar payudara pada tahun-tahun terakhirnya.


5. Patofisiologi

Kanker payudara terbanyak menyerang payudara sebelah kiri dari pada sebelah kanan, dan lebih sering pada bagian atas ( bagian atas buah dada yang dekat dengan lengan). Kanker payudara tersebar melalui sistem limpa (tempat penyebaran limfatik mencakup nodus mamaria internal dan supraklavikula) dan aliran darah, melalui bagian kanan jantung ke paru-paru, dan sampai kembali ke payudara sebelahnya, dinding daada, tulang, dan otak.

Stadium I : Tumor <>
Stadium II : Tumor 2-5 cm, metastasisi ke kelenjar getah bening ketiak
Stadium III : Tumor > 5 cm, metastasis ke kelenjar getah bening ketiak dan menyebar kekulit / dinding dada
Stadium IV : Metastasis kas

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara teratur setiap bulan deteksi dini kanker / tumor. Dilakukan pad wanita berusia diatas 20 tahun.
b. Mamografi., pemeriksaan sinar-X payudara untuk mengidentifikasi kanker sebelum benjolan pada payudara diraba dianjurkan untuk 40 tahun keatas.
c. Pemeriksaan USG untuk membedakan lesi/tumor.
d. Pemeriksaan USG untuk histopatologis yang dilakukan dengan :
1) Biopsi eksisi, dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat disekitarnya bila tumor <>
2) Biopsi insisi, dengan mengangkat sebagai jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor-tumor yang inoperable atau lebih besar dari 5 cm.
e. Termografi adalah cara pemeriksaan menggunakan sinar infared.
f. Ultrasonografi adalah Memeriksa berdasarkan pemantulan gelombang suara, hanya dapat membedakan lesi / tumor yang solid dan kistik dan ukuran lesi dapat lebih akurat. Alat yang digunakan sebaiknya berfrekwensi 7,5 mHZ hingga 10 mHZ bahkan lebih dari 10 mHZ.
g. Xerografi adalah suatu “fotoelectri imaging system” berdasarkan pengetahuan xerografi.
h. Seintimammografi adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radio isotop Tc 99 sestamibi yang dilabel dengan keloid dengan ukuran 50-200 nm karena akan mempengaruhi jalannya radio isotop ke sel getah bening

7. Deteksi Dini Ca Mammae

Deteksi dini ca mammae dapat dilakukan sendiri yaitu dengan cara SADARI.
Yaitu merupakan pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri didepan cermin dan dilakukan wanita usia 20 tahun keatas.
Tujuan dilakukan deteksi dini ca mammae untuk mendeteksi terjadinya kanker payudara, dari depan , sisi kiri dan kanan, apakah ada benjolan, perubahan warna kulit, putting bersisik dan pengeluaran cairan nanah dan darah. Sadari ini dapat dilakukan setelah hari keempat menstruasi.
Adapun prosedur pemeriksaan sadari ada tiga tahap :
Tahap 1 ( Inspeksi ) :
Untuk melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan putting susu serta kulit payudara didepan cermin.
Cara : posisi kedua lengan disamping badan , selanjutnya kedua lengan diatas kepala, kemusian kedua tangan ditekan kuat diatas penggul sementara otot dada ditegangkan.
Tahap 2 (palpasi) :
Untuk melihat perubahan payudara dengan cara berbaring.
Cara : Letakaan bantal kecil dibawah punggung kanan.Raba seluruh permukaan payudara kanan.Raba denagn tiga ujung jari yang dirapatkan,lakukan gerakan memutar dengan tekanan lembut dimulai dari pinggir dengan mengikuti putaran arah jarum jam.Periksa pula lipatan lengan,batas luar payudara dan keseluruh payudara.
Tahap 3 (Inspeksi dan palpasi)
Perhatikan tanda-tanda perdarahan atau keluarnya caiean dari putting susu.
Cara: Pegang payudara dengan 1 tangan,kemudian tangan yang lain memencet putting.Lihat apakah ada pengeluaran cairan dari putting (darah/atau nanah).
Tahap 4
Lakukan hal serupa pada payudara kiri

8. Penatalaksanaan

a. Masektomi atau lumpektomi, dengan diseksi kelenjar getah bening aksila
b. Radiasi atau antiestrogen untuk tumor yang + reseptor estrogennya
c. Rekonstruksi payudara
d. Pemberian konseling dan dukungannya
(J. Corwin, 2000 : 659)
e. Pembedahan / Biopsi
Terjadinya untuk menemukan bila ada masa malignasis dan kanker payudara tersebut. Ada dua jenis prosedur :
1) Prosedur satu tahap dilakukan dengan anastesi umum dengan potongan beku cepat.
2) Prosedur dua tahap dilakukan dengan anastesi lokal dan tersebut dipulangkan kerumah.
f. Terapi Radiasi
Sebagai pengobatan primer untuk kanker payudara tahap satu dan dua
g. Kemoterapi

8. Pengobatan 

1. Pembedahan, baik yang bersifat kuratif (penyembuhan) maupun paliatif (menghilangykan gejala-gejala penyakit).
2. Penyinaran, kuratif maupun paliatif.
3. Kemoterapi/sitostatika yang merupakan pengobatan suportif (penunjang)
4. Hormonal, yang merupakan pengobatan supertof dan berupa tindakan ablasi (melenyapkan) atau aditif.
5. Imunoterapi, untuk menaikkan daya tahan tubuh.
6. Simtomatik, perawatan/penanggulangan keluhan-keluhan dari penderita kanker payudara yang sudah lanjut.

9. Komplikasi

Dapat metastasis luas. Tempat metastasis antara lain adalah otak paru, tulang, hati dan ovarium. Angka bertahan hidup bergantung pada stadium satadium I (tumor <>)
10. Klasifikasi
Klasifikasi TNM kanker payudara (AJCC 1992)
TA : Tumor primer tidak dapat ditentukan
T0 : Tidak Terbukti adanya tumor primer
T15 : Kanker in situ
Kanker intraduktal / lobural in situ
Penyakit pengetahuan pada papilla tanpa terasa tumor
T1 : Tumor <>
T1a tumor <>
T1b tumor 0,5-1 cm
T1c tumor 102 cm
T2 : Tumor 2-5 cm
T3 : Tumor > 5 cm
T4 : Berapapun ukuran tumor, dengan penyebaran langsung ke dinding dada kulit. Dinding dada termasuk kosta, otot interkesta, otot seratus interior tidak termasuk otot pektroralis
T4a : Melekat pada dinding dada
T4b : Edema pear d’orange ulserasi, nodul satelit pada daerah payudara yang sama
T4c T4a dan T4b
T4d Karsinoma inflammation = mastitis karsinomato E15
Nx : Pembesaran kelenjar regional tak dapat ditentukan
N02 : Tidak teraba kelenjar aksila
N1 : Teraba pembesaran kelenjar aksila hemolateral yang tidak melekat
N2 : Teraba pembesaran kelenjar mamaria interna homolateral
Mx : Metastasisi jauh tidak dapat dilanjutkan
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasisi jauh, termasuk ke kelenjar suprakavikula



11. Prognosis 

Secara umum, makin kecil tumor makin baik prognosisnya. Membutuhkan waktu hampir 16 kali penggandaan untuk karsinoma menjadi 1cm atau lebih besar., dimana pada waktu tersebut karsinoma telah tampak secara klinis. Dengan menganggap bahwa membutuhkan 30 hari untuk setiap waktu penggandaan. Maka akan dibutuhkan minimum 2 tahun untuk karsinoma agar dapat teraba. Jika waktu penggandaan adalah 210 hari, maka akan dibutuhkan waktu sampai 17 tahun sebelum karsinoma tersebut dapat teraba.
Kelangsungan hidup tergantung pada penyebaran gerional atau jauh atau metastatis



B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA CA MAMMAE

1. Pengkajian

ANAMNESIA
a. Biodata klien : Nama, Umur, Alamat, Nama Suami, Agama, Pendidikan, dan Pekerjaan.
b. Riwayat menstruasi dan menepouse : mens pertama, lama, keluhan yang di alami, menepouse umur berapa, keluhan pada ibu.
c. Riwayat seksual : tentang penyakit yang pernah di alami.
d. Kaji kecemasan adakali perubahan suara ekspresi wajah gelisah.
e. Adakah perubahan aktivitas / istirahat : kelemahan, keletihan, pusing, pucat, kebiasaan tidur.
f. Adakah perubahan pada sirkulasi , TTV, sianosis.
g. Adakah perubahan dalam penampilan : alopesia, lesi cacat, putus asa, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, depresi.
h. Adakah perubahan eliminasi : perubahan detekasi (darah dan pada feses, nyeri detekasi konsistensi, bising usus) perubahan eliminasi urine (atau) rasa terbakar, mual, muntah, BB menurun.
i. Adakah perubahan pola makan dan minum (cairan).
- Kebiasaan diet buruk (rendah serat : 1 lemak).
- Anoreksia, mual, muntah, BB.
j. Adakah demam, ruam kulit, ulserasi.
k. Adakah perubahan seksual.
- Masalah sexual.
- Perubahan pada tingkat perilaku verbal / non verbal.
- Ketakutan menghadapi seksual.
- Kurang informasi mengenai seksual dan fungsi seksual.
- Adakah rerub dengan orang terdekat.
l. Adakah perubahan interaksi social.
- Adakah dukungan dari orang lain / ornag terdekat.
- Adakah penolakan.
- Keinginan ibu banyak berhubungan dengan orang terdekat / orang lain.
- Ketidak adekuatan / kelemahan sistem pendukung masalah tingkat fungsi / tanggung jawab


2. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri dan ketidaknyamanan sehubungan dengan perkembangan ca mammae
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada diri sendiri karena diagnosis ca mammae.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan payudara.
4. Harga diri rendah berhubungan dengan ca mammae.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan paparan informasi tentang ca mammae


3. Intervensi

1. Nyeri dan ketidaknyamanan sehubungan dengan perkembangan ca mammae
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intensitas nyeri klien berkurang atau hilang, dengan criteria hasil :
• Klien tidak merasa nyeri
• Klien tampak tenang
Intervensi :
 Kaji lokasi nyeri secara komprehensif
 Kurangi presipitasi nyeri
 Berikan analgesic sesuai anjuran dokter
 Ajarkan teknik relaksasi seperti : tarik nafas dalam
 Observasi reaksi non verbal klien
 Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien

2. Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada diri sendiri karena diagnosis ca mammae.
Tujuan : Mengurangi / menghilangkan ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan.
KH : Tingkatan kecemasan menurun dan terpelihara pada tingkat yang dapat diterima.
Intervensi
 Kaji tanda dan gangguan mengidentifikasi berat ringannya ansietas.
 Gunakan satu sistem pendekatan yang tenang yang meyakinkan.
 Lakukan teknik mendengar aktif.
 Dukungan penggunaan mekanisme pertahanan yang sesuai.
 Monitor intensitas kecemasan
 Terangkan dan ajarkan strategi koping
 Gunakan tehnik relaksasi untuk menurunkan kecemasan
 Bantu klien untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan
Penurunan kecemasan
 Tenangkan klien
 Berikan informasi tentang diagnose prognosis penyakitnya dan tindakannya
 Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fifik pada tingkat kecemasan
 Gunakan pendekatan dan sentuhan
 Berikan teknik relaksasi
.

3. Harga diri rendah berhubungan dengan ca mammae.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan harga diri klien meningkat
KH : Klien bisa menerima keadaan dirinya
Intervensi :
 Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya tentang diagnosa kanker payudara,
 Bantu pasien untuk memisahkan penampilan fisik dari perasaan makna diri
 Berikan reinforcement positif.

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan paparan informasi tentang ca mammae
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah.
KH : klien mengetahui tentang ca mammae yang dideritanya
Intervensi :
 Observasi kesiapan klien untuk mendengar ( mental, kemampuan untuk melihat, kesiapan emosional, bahasa dan budaya )
 Observasi tingkat kepengetahuan klien tentang ca mammae sebelumnya.
 Kaji pengetahuan apsien atau keluarga mengenai kanker payudara dan anjurkan pengobatannya.
 Jelaskan patofisiologi dari kanker payudara sesuai kebutuhan.
 Berikan informasi tentang pilihan pengobatan yang sesuai.


PENUTUP


A. KESIMPULAN

Kanker payudara adalah kanker yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (Luwia, 2003). Menurut Cahyani cit Pramadhiani (2000) kanker payudara adalah benjolan pada payudara yang tumbuh secara abnormal terus menerus dan tidak terkendali. Kanker payudara bias disebabkan oleh factor gnetik, hormonal, lingkungan, berat badan. Kanker payudara adalah jenis kanker kedua penyebab kematian karena kanker pada wanita,

B. SARAN

1. Kesadaran akan payudara sendiri yaitu dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap 1 bulan sekali.
2. Memberikan ASI pada bayi kerena semakin lama pemberian ASI akan lebih baik karena akan menurunkan kadar hormon estrogen.
3. Jika menemukan gumpalan segera ke dokter walaupun sekitar 80% dari semua benjolan payudara bukan disebabkan kanker.
4. Pernah terkena tumor jinak atau keluarga ada yang terkena kanker payudara.
5. Memperhatikan konsumsi alkohol karena alkohol meningkatkan hormon estrogen yang diduga sebagai penyebab kanker payudara.
6. Berat badan yang berlebih dapat dikaitkan dengan munculnya kanker payudara karena berat badan yang berlebih menghasilkan hormon estogen yang tinggi.
7. Olah raga secara teratur karena olah raga terjadi pembakaran lemak sehingga kadar tubuh akan turun.
8. Wanita yang berusia lebih dari 50 tahun sebaiknya melakukan skrening rutin karena 80% kanker payudara terjadi pada usia diatas 50 tahun.
9. Mengurangi makanan berlemak, karena makanan yang berlemak menghasilkan kanker estrogen yang tinggi disebabkan oleh bakteri khusus di dalam usus.
10. Relaks (santai)




Bobak ,dkk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC

Dr.Cooper, Robert B. 1996.Diseases. Jakarta: PT Gramedia.

Gale, Daniel. 1999. Rencana asuhan keperawatan onkologi/ Danielle Gale, Jane Charette. Jakarta: EGC

Hawari,Dadang. 2004. Kanker Payudara Dimensi Psikoreligi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed III jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius fakultas kedokteran UI.

Smeltzer, Suzanne C.2001. Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddarth.Ed 8. Jakarta: EGC

Tim Penanggulangan dan Pelayanan Kanker Payudara Terpadu. 2003.
Penataksanaan Kanker Payudara Terkini. Jakarta : Pustaka Populer Obor

Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : TRisada Printer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar